Dalam upaya penanganan keringat berlebih(hyperhidrosis) perlu dipertimbangkan oleh beberapa aspek yang terjadi. Salah satu aspek terpenting, yaitu adanya masalah keringat berlebihan ini mengganggu produktifitas dan aktivitas seseorang. Hal ini sangat terbukti pada beberapa pasien yang mengalami hyperhidrosis, bahwa keadaan ini membuat seseorang malu untuk bertemu dengan orang lain, sehingga beberapa dari mereka juga mengalami masalah sosial dengan orang di skeitarnya. Pada umumnya keringat seharunya tidak berbau, tetapi akibat adanya flora normal dan bakteri yang ada di kulit, maka keringat seseorang dapat mengalami bau yang tidak sedap. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, bahwa hyperhidrosis dibagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Sehingga dalam suatu penangan hyperhidrosis satu pasien dengan pasien yang lain tidak dapat disama ratakan penanganannya. Secara umum, maka penanganan terhadap hyperhidrosis, yaitu berupa pengobatan dengan konsumsi obat atau tindakan medis yang menggunakan penanganan alat lebih lanjut, hingga melakukan operasi pada beberapa saraf simpatis yang diyakini mampu mengalami angka keberhasilan dalam menangani keadaan ini.

    1. Antiperspirant. Ini merupakan suatu pilihan pertama yang dapat diberikan dengan mengaplikasinnya secara langsung pada daerah yang mengalami keringat berlebih. Tetapi pada penggunaan antiperspirant harus mendapat izin dan pengawasan oleh seorang dokter, mengingat efek samping yang terjadi, yaitu rasa seperti terbakar hingga kulit menjadi iritasi.
    2. Suntikan botoks (botulinum toksin). Penanganan ini merupakan suatu penanganan yang cukup invansif, sehingga harus dilakukan oleh spesialis ataupun ahlinya. Pada penanganan ini, seseorang akan dilakukan penyuntikkan pada daerah di bawah ketiak dan akan mengalami perubahan setelah 5 hari atau lebih. Tetapi tetap penanganan ini bukan merupakan suatu yang dianjurkan mengingat kejadian hyperhidrosis ini akan Kembali berulang sekitar 6 bulan paska penyuntikkan.
    3. Obat-obatan. Penggunaan obat-obatan yang dikonsumsi dengan cara meminumnya, pentingh untuk melakukan konsultasi terlebih dahulu kepada seorang dokter mengingat beberapa obat yang direkomendasikan dapat menyebabkan efek samping, berupa mulut dan mata kering, jantung berdebar, hingga penglihatan menjadi kabur.
    4. Iontrofesis. Penanganan menggunakan metode ini, yaitu dengan cara tangan atau kaki yang mengalami hyperhidrosis dimasukkan ke dalam air, lalu dialiri listrik bertegangan rendah agar saraf yang terdapat di telapak itu mati sehingga kelenjar keringat tidak berproduksi untuk sementara waktu. Tetapi pada keadaan ini cukup memiliki keterbatasan waktu, mengingat prosedur ini harus dilakukan sekitar 2-3 kali sehari dan dengan durasi 20 menit. Selain itu, memiliki efek samping kulit kering, iritasi dan rasa tidak nyaman selama prosedur ini berlangsung.
    5. Operasi. Pada keadaan hyperhidrosis yang tidak mampu ditangani dengan cara-cara di atas, dapat dilakukan suatu operasi. Operasi yang dimaksud adalah dengan melakukan simpatitektomi sebagai operasi besar atau dapat juga dilakukan dengan suatu metode laser. Semua jenis operasi memiliki resiko masing-masing. Hal yang paling sering dialami yaitu rasa kebas, memar dan infeksi, namun seiring dengan proses pemulihana, semua resiko ini mampu sembuh. Dalam keadaan berat, efek samping yang terjadi yaitu kerusakan efek permanen. Khusus unutuk suatu keadaan simpatitektom, hal yang mungkin muncul berupa compensatory sweating, yaitu keringat justru semakin banyak dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Tetapi, melalui spesialis yang tepat dan ahli semua resiko ini dapat diminimalisirkan, mengingat angka keberhasilan yang tinggi setelah melakukan operasi dan tidak terjadi residif atau berulang.